Sudah lebih dari sebulan saya memelihara tanaman cabai yang diberikan oleh Riska, salah satu rekan lab. di Pusan National University.

Tanaman tersebut awalnya dititipkan kepada saya karena Riska saat itu akan pulang selama dua minggu ke Indonesia.

Rasanya senang juga melihat ada tanah dan tanaman di one room daehyeon (대현) tempat saya tinggal saat ini.

Maklum di lingkungan sekitar kampus Pusan National University, yang namanya tanah sudah jarang.

Hampir semua lahan telah digunakan untuk bangunan dan sebagian besar area terbuka yang bukan taman telah ditutup dengan aspal dan semen.

Disatu sisi jika kita pergi kemana-mana sepatu kita cenderung bersih karena kemanapun kita pergi, yang kita injak bukan tanah melainkan aspal dan trotoar yang sudah ditutupi semen dan paving blok.

Disisi lain saya cukup kangen melihat lahan tanah yang terhampar dengan alami dan diatasnya tumbuh tumbunhan liar.

Bahkan jika teman-teman melihat tempat tinggal di kota Busan, Korea Selatan, hampir sebagian besar tidak memiliki halaman tanah yang masih sering kita jumpai di Indonesia.


Sambil berjalan menuju laboratorium tercinta, saya-pub mengambil foto lahan tanah yang digunakan penduduk setempat untuk bercocok tanam.

Lokasinya tidak jauh dari kampus Pusan National University.

Lebih tepatnya dekat parkiran mobil daerah moonchang gate.


Saya jadi sempat berfikir. Apakah indonesia kedepannya akan seperti ini juga ya? Tanah akan jarang terlihat di kota-kota besar.


Semoga Indonesia masih bisa tetap indah tanpa harus menghilangkan banyak lahan tanah alami…

Advertisements