Ngomong-ngomong masalah isi ulang air minum,jadi inget pas jaman kuliah S1 dulu.

Mungkin teman-teman pembaca juga punya pengalaman yang mirip. 

Kalau di Indonesia kita benar-benar sudah kecanduan dengan air minum merek “AQ*a”. 

Kalaupun isi galonnya bukan dari AQ*a, setidaknya sebagian besar dari kita kemungkinan menggunakan galon AQ*a kan? πŸ˜€

Kalau pas lagi ada rejeki,pasti beli AQ*a. Tapi pas duit mepet terpaksa menghemat dengan pergi ke toko yang menerima isi ulang. 

Kalau kata iklan mah “dimanapun toko isi ulangnya, galonnya pasti galon AQ*a” πŸ™‚

Ketika saya mulai menempuh studi di Pusan National University, Busan, Korea Selatan, saya mengalami hal yang berbeda untuk masalah per-air-minuman ini. πŸ˜€

Disini saya jarang melihat toko yang menjual galon air atau bahkan orang yang nganter dan gotong-gotong galon air minum.

Baca juga : Cerita Pendek Dua Minggu Pertama di Negeri Ginseng Bagian ke 2

Hampir sebagian besar rumah, kosan, asrama dan tempat makan, mereka memiliki filter air untuk menyediakan air minumnya.

Begitu juga di one room daehyeon (λŒ€ν˜„) tempat saya tinggal saat ini.

Satu gedung one room biasanya disediakan satu filter air yang digunakan bersama.

Dan di daehyeon, filter tersebut berada di lantai 4. πŸ˜€

Yah lumayan. Pas ngisi air minum sekalian olahraga. Bulak-balik dari lantai 2 ke lantai 4 setiap hari itu “sesuatu” banget. πŸ™‚

Setelah semua botol air terisi penuh, saatnya membawa kembali botol-botol tersebut dengan tas biru kecil yang sudah berjasa membantu saya selama ini.

Selamat mengisi air minum… πŸ™‚

Advertisements